Managing Risk by Reducing Uncertainty Through Inspection
Inspeksi ≠Mengurangi mekanisme deteriorasi
= identifikasi,monitor,mengukur
mekanisme deteriorasi
- Inspeksi yang baik =>prediktabilitas naik =>ketidakpastian turun => PoF berkurang =>resiko berkurang.
- Kuallitas data inspeksi dan analisis mempengaruhi level pencegahan resiko.
RBI berfungsi untuk mengidentifikasi apakah CoF atau PoF yang lebih mengendalikan risiko atau seimbang. Apabila risiko dikendalikan oleh PoF, maka diperlukan manajemen risiko melalui inspeksi
Setelah asesmen RBI dilakukan, item/peralatan yang memiliki risiko lebih tinggi harus dievaluasi kembali melalui potential risk management through inspection
Risk management through inspection tergantung pada waktu hidup dari equipment dan tipe mekanisme deteriorasi.
Hasil dari RBI&hasil dari resultan resiko digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan strategi inspeksi
Inspeksi hanya akan efektif jika teknik inspeksi yang dipilih cukup untuk mendeteksi mekanisme deteriorasi dan tingkat severity (keparahan)
Mereduksi level risiko dengan inspeksi bergantung pada:
Modus failure dari mekanisme deteriorasi
Interval waktu antara batas deteriorasi dan failure
Kapabilitas pendeteksian dari teknik inspeksi
Lingkup inspeksi
Frekuensi inspeksi.
Efektifitas inspeksi periode sebelumnya akan menentukan risiko saat ini
RBI digunkan untuk menetukan Kapan, Apa dan Bagaimana inspeksi harus dilakukan untuk mengurangi risiko di masa depan
Saturday, 28 November 2009
Permadi Ajak Mahasiswa Turun ke Jalan
Judul diatas saya ambil dari kompas(Sabtu, 28 November 2009 | 21:31 WIB).
Ajakan bapak Permadi diatas menurut saya sangat dangkal sekali, mengajak mahasiswa untuk turun ke jalan, melakukan aksi demonstrasi pada 1 desember mendatang. Kita tahu sendiri, mahasiswa adalah kaum intelektual, yang mempunyai akal dan pikiran serta nalar yang tinggi, semuanya yang akan dilakukan harus berdasar pada pemikiran. Bisa kita bayangkan apa jadinya jika setiap menyikapi masalah di republik ini, mahasiswa selalu turun ke jalan.Apa tidak ada jalur yang lebih elegan dan demokratis untuk menyelesaikan setiap permasalahan, apa gunanya DPR klo gitu(meskipun lembaga ini sangat tidak pro rakyat dan masih perlu banyak reformasi???
MahasiswaIndonesia memang betul menjadi pengawal demokrasi dan pelopor reformasi di negeri ini, tapi tentu kita sadar jika perjuanagan reformasi ini belumlah usai, masih banyak persoalan pelik yang muncul dari reformasi itu sendiri. Mahasiswa mempunyai idealisme dan pragmatisme, tetapi..yang perlu dipertanyakan kemudian adalah, apakah sifat idealisme dan pragmatisme itu masih tetap melekat jika sudah terjun ke masyarakat dan menjadi bagian dari rakyat???? silahkan dijawab sendiri..
Saya sadar, jika bangsa ini sudah sangat bobrok. Kepercayaan publik terhadap lembaga negara sudah sangat minim, sehingga jangan salah jika Allah merundung negeri kta dengan berbagai permaslaahan dan bencana, sangat benar sekali perkataan bapak Tifatul SEmbiring dalam khutbah idul adha, jika semua permasalahan bangsa ini bersumber dari keserakahan manusia Indonesia sendiri.
Ajakan bapak Permadi diatas menurut saya sangat dangkal sekali, mengajak mahasiswa untuk turun ke jalan, melakukan aksi demonstrasi pada 1 desember mendatang. Kita tahu sendiri, mahasiswa adalah kaum intelektual, yang mempunyai akal dan pikiran serta nalar yang tinggi, semuanya yang akan dilakukan harus berdasar pada pemikiran. Bisa kita bayangkan apa jadinya jika setiap menyikapi masalah di republik ini, mahasiswa selalu turun ke jalan.Apa tidak ada jalur yang lebih elegan dan demokratis untuk menyelesaikan setiap permasalahan, apa gunanya DPR klo gitu(meskipun lembaga ini sangat tidak pro rakyat dan masih perlu banyak reformasi???
MahasiswaIndonesia memang betul menjadi pengawal demokrasi dan pelopor reformasi di negeri ini, tapi tentu kita sadar jika perjuanagan reformasi ini belumlah usai, masih banyak persoalan pelik yang muncul dari reformasi itu sendiri. Mahasiswa mempunyai idealisme dan pragmatisme, tetapi..yang perlu dipertanyakan kemudian adalah, apakah sifat idealisme dan pragmatisme itu masih tetap melekat jika sudah terjun ke masyarakat dan menjadi bagian dari rakyat???? silahkan dijawab sendiri..
Saya sadar, jika bangsa ini sudah sangat bobrok. Kepercayaan publik terhadap lembaga negara sudah sangat minim, sehingga jangan salah jika Allah merundung negeri kta dengan berbagai permaslaahan dan bencana, sangat benar sekali perkataan bapak Tifatul SEmbiring dalam khutbah idul adha, jika semua permasalahan bangsa ini bersumber dari keserakahan manusia Indonesia sendiri.
Kalorimeter Bom
Nilai kalor bahan bakar adalah suatu besaran yang menunjukkan nilai energi kalor yang dihasilkan dari suatu proses pembakaran setiap satuan massa bahan bakar. Bahan bakar yang banyak digunakan umumnya berbentuk senyawa hidrokarbon. Reaksi umum yang terjadi dari suatu proses pembakaran adalah :
reaktan produk
Enthalpi pembakaran adalah selisih antara enthalpi dari produk dengan enthalpi dari reaktan ketika pembakaran sempurna berlangsung pada temperatur, dan tekanan tertentu (T,P). Pembakaran sempurna terjadi jika semua komponen bahan bakar (seperti C,H & N) terbakar semuanya dan membentuk ikatan dengan komponen-komponen udara membentuk suatu senyawa baru (CO2, H2O, N2).
Secara teoritik, jika diketahui struktur molekul dari bahan bakar (misal: CH4, C8H18, C12H26) dan nilai enthalpi pembentukan untuk setiap komponen reaktan dan produk, harga enthalpi pembakaran bahan bakar dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
dimana : hRP = nilai enthalpi pembakaran
ne &ni = jumlah mol masing-masing komponen produk dan reaktan
he & hi = nilai enthalpi masing-masing komponen produk dan reaktan
Hubungan antara nilai kalor bahan bakar dengan enthalpi pembakaran adalah :
Cara lain untuk menentukan nilai kalor bahan bakar yaitu secara eksperimental dengan menggunakan suatu alat yang disebut kalorimeter bom. Pada pengujian kali ini akan ditentukan nilai kalor bahan bakar dengan menggunakan kalorimeter bom.
Tujuan dari mengetahui nilai bahan bakar adalah untuk :
Memilih bahan bakar yang sesuai untuk keperluan.
Menghitung efisiensi dari suatu sistem yang menggunakan bahan bakar (misal boiler, motor bakar torak) dengan sebelumnya terlebih dahulu menghitung energi kalor yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar.
Menentukan kualitas suatu bahan bakar berdasarkan besar kecilnya nilai kalor yang dimilikinya.
Berdasarkan fasa H2O yang terbentuk sebagai hasil pembakaran, nilai kalor dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
LHV (Low Heating Value), yaitu nilai kalor bahan bakar jika H2O yang dihasilkan sebagai produk pembakaran berada dalam fasa uap (gas).
HHV (High Heating Value), yaitu nilai kalor bahan bakar jika H2O yang dihasilkan sebagai produk pembakaran berada dalam fasa cair.
Nilai LHV selalu lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai HHV. Hal ini dikarenakan kalor yang dihasilkan pada proses pembakaran dengan LHV sebagian digunakan untuk mengubah H2O dari fasa cair menjadi fasa gas sehingga besar energi kalor yang dapat dimanfaatkan menjadi lebih kecil.
Penurunan rumus NBB
Secara umum, rumus nilai kalor bahan bakar adalah :
Nbb = ((H x ∆T)- (N x m)kp-(Nxm)kw)/m_bb ( kJ/kg)
Dimana :
Nbb = Nilai Kalor Bahan bakar [kJ/kg)]
H = Nilai air kalorimeter = 11,5664 kJ/oC
ΔT = Tf – Ti [oC]
Nkp = Nilai kalor kapsul = 19222,04 kJ/kg
mkp = Massa kapsul [kg]
Nkw = Nilai kalor kawat = 5860,40 kJ/kg
mkw = Massa kawat yang terbakar [kg]
mbb = Massa bahan bakar [kg]
Untuk menentukan harga Tf, Ti dan Tawal digunakan grafik antara temperatur yang diukur terhadap waktu. Selanjutnya Ti dapat dihitung dengan menggunakan rumus perbandingan antara Tf dan Tawal, yaitu sebagai berikut :
.
Harga perbandingan tersebut adalah spesifik untuk kalorimeter bom yang digunakan dalam percobaan ini. Harga tersebut dikeluarkan oleh produsen dari kalorimeter bom. Untuk menentukan harga perbandingan setiap kalorimeter bom, perlu dilakukan kalibrasi kalorimeter bom.
reaktan produk
Enthalpi pembakaran adalah selisih antara enthalpi dari produk dengan enthalpi dari reaktan ketika pembakaran sempurna berlangsung pada temperatur, dan tekanan tertentu (T,P). Pembakaran sempurna terjadi jika semua komponen bahan bakar (seperti C,H & N) terbakar semuanya dan membentuk ikatan dengan komponen-komponen udara membentuk suatu senyawa baru (CO2, H2O, N2).
Secara teoritik, jika diketahui struktur molekul dari bahan bakar (misal: CH4, C8H18, C12H26) dan nilai enthalpi pembentukan untuk setiap komponen reaktan dan produk, harga enthalpi pembakaran bahan bakar dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
dimana : hRP = nilai enthalpi pembakaran
ne &ni = jumlah mol masing-masing komponen produk dan reaktan
he & hi = nilai enthalpi masing-masing komponen produk dan reaktan
Hubungan antara nilai kalor bahan bakar dengan enthalpi pembakaran adalah :
Cara lain untuk menentukan nilai kalor bahan bakar yaitu secara eksperimental dengan menggunakan suatu alat yang disebut kalorimeter bom. Pada pengujian kali ini akan ditentukan nilai kalor bahan bakar dengan menggunakan kalorimeter bom.
Tujuan dari mengetahui nilai bahan bakar adalah untuk :
Memilih bahan bakar yang sesuai untuk keperluan.
Menghitung efisiensi dari suatu sistem yang menggunakan bahan bakar (misal boiler, motor bakar torak) dengan sebelumnya terlebih dahulu menghitung energi kalor yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar.
Menentukan kualitas suatu bahan bakar berdasarkan besar kecilnya nilai kalor yang dimilikinya.
Berdasarkan fasa H2O yang terbentuk sebagai hasil pembakaran, nilai kalor dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
LHV (Low Heating Value), yaitu nilai kalor bahan bakar jika H2O yang dihasilkan sebagai produk pembakaran berada dalam fasa uap (gas).
HHV (High Heating Value), yaitu nilai kalor bahan bakar jika H2O yang dihasilkan sebagai produk pembakaran berada dalam fasa cair.
Nilai LHV selalu lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai HHV. Hal ini dikarenakan kalor yang dihasilkan pada proses pembakaran dengan LHV sebagian digunakan untuk mengubah H2O dari fasa cair menjadi fasa gas sehingga besar energi kalor yang dapat dimanfaatkan menjadi lebih kecil.
Penurunan rumus NBB
Secara umum, rumus nilai kalor bahan bakar adalah :
Nbb = ((H x ∆T)- (N x m)kp-(Nxm)kw)/m_bb ( kJ/kg)
Dimana :
Nbb = Nilai Kalor Bahan bakar [kJ/kg)]
H = Nilai air kalorimeter = 11,5664 kJ/oC
ΔT = Tf – Ti [oC]
Nkp = Nilai kalor kapsul = 19222,04 kJ/kg
mkp = Massa kapsul [kg]
Nkw = Nilai kalor kawat = 5860,40 kJ/kg
mkw = Massa kawat yang terbakar [kg]
mbb = Massa bahan bakar [kg]
Untuk menentukan harga Tf, Ti dan Tawal digunakan grafik antara temperatur yang diukur terhadap waktu. Selanjutnya Ti dapat dihitung dengan menggunakan rumus perbandingan antara Tf dan Tawal, yaitu sebagai berikut :
.
Harga perbandingan tersebut adalah spesifik untuk kalorimeter bom yang digunakan dalam percobaan ini. Harga tersebut dikeluarkan oleh produsen dari kalorimeter bom. Untuk menentukan harga perbandingan setiap kalorimeter bom, perlu dilakukan kalibrasi kalorimeter bom.
Baru pertama kali punya blog
hahahaha..alhamdulillah, akhirnya saya punya blog juga, meskipun sangat sederhana bentuknya, tapi Insya'allah akan terus di mimprove lagi..
Subscribe to:
Posts (Atom)